Tiket Pesawat Online

Bisnis Tiket Pesawat - http://www.tiket-network.com/?ref=sopokopi.

Medan Rental Car

Rental mobil di Medan, hubungi Abang Ido 081375884432 - Tirtanadi.com.

Tambang Batubara

Strip Coal Mining - kliktambang.blogspot.com.

Mineral

Kristal Fluorapophyllite - kliktambang.blogspot.com.

Coal Mining

Flathead coal mining - kliktambang.blogspot.com.

Sunday, May 1, 2011

Di Lahat Batu Bara Melimpah

PALEMBANG: Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan, memiliki cadangan batubara 2,71 miliar ton dan mulai dieksploitasi sejak 2009 dengan produksi 5,918 juta ton per tahun.

Bupati Lahat Syaifudin Aswari Rivai di Palembang, Kamis 7 April 2011, mengatakan, di daerahnya kini terdapat 17 perusahaan swasta yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) dengan total produksi 5,918 juta ton batubara per tahun.

Berbicara pada seminar “Mencari Solusi Angkutan Batubara di Sumsel” ia menjelaskan, 12 IUP swasta dengan produksi sekitar 2,774 juta ton per tahun mengangkut batubaranya dengan “dump truck”, sementara produksi dua IUP milik PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) menggunakan kereta api.

Dikemukakannya, saat ini di daerahnya masih ada 38 IUP batubara yang belum berproduksi. Untuk mengantisipasi padatnya kendaraan di jalan raya dari Lahat ke Palembang, pemerintah kabupaten berencana membangun jalan khusus.

Pembangunan jalan khusus itu akan dikerjakan PT Servo Lintas Raya (PT SLR). Selain itu, Pemerintah Provinsi Sumsel juga telah menyetujui pembangunan jalan kereta api (KA) dua jalur untuk angkutan batubara.

Pihaknya menargetkan jalan khusus batubara itu beroperasi awal 2012.
Tentang permasalahan dihadapi di lapangan, menurut Aswari, adalah soal pembebasan lahan milik warga. “Biasanya, kalau mengetahui informasi akan dibangun jalan khusus angkutan batubara, warga cenderung menaikkan harga jual tanahnya,” katanya.

Di samping itu, warga juga mau semua lahan mereka dibebaskan meski tidak seluruhnya terkena proyek pembuatan jalan.

“Belum lagi permasalahan lain, karena jalan khusus angkutan batubara itu juga membutuhkan 70 unit jembatan baru karena banyak sungai dilintasi,” katanya.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel Yusri Efendi menyatakan, provinsi itu memiliki cadangan batubara 22,24 miliar ton, atau 48,45 persen dari total cadangan nasional.

Cadangan batubara sebanyak itu terdapat di wilayah mulut tambang Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, juga di perut bumi wilayah pertambangan Kabupaten Lahat dan beberapa daerah lainnya.

Sejumlah daerah yang memiliki cadangan batubara di Sumsel adalah Kabupaten Musi Rawas, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Ogan Komering Ulu Timur dan Kota Prabumulih. Namun baru di Kabupaten Muara Enim dan Lahat yang sudah dieksploitasi. (ant)

PT Pelindo II akan Tingkatkan Pengangkutan Batubara di Sumsel

07.10.2010 17:01:51 WIB

SUMATRA Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan batubara. Diperkirakan ada sekitar 22 miliar ton batubara atau sekitar 48 persen cadangan nasional, yang belum dieksploitasi . Namun, sampai saat ini ada kendala transportasi dalam mengeksploitasi batubara tersebut. Angkutan melalui keretaapi, truk, dan tongkang, belum sesuai dengan target produksi.

Oleh karena itu, PT Pelindo II, berencana meningkatkan pengiriman batubara dari Sumatra Selatan dengan cara melakukan optimalisasi pengiriman batubara keluar melalui investasi di bidang pengangkutan air atau melalui sungai Musi.

Ada beberapa hal yang akan dilakukan. Pertama membangun loading point di tepi sungai Musi dengan jarak terdekat sentra produksi batubara yakni di kabupaten Muaraenim. Kedua menyediakan sejumlah tongkang dengan ukuran kecil atau tongkang bermesin, yang mana selain memiliki kecepatan yang lebih baik, juga aman terhadap lingkungan terutama melalui jembatan Ampera, yang jarak antartiangnya hanya berkisar 40 meter.

Ketiga, membangun pelabuhan teruntuk kapal-kapal besar di muara sungai Musi atau di daerah kabupaten Banyuasin.

Angkutan melalui kapal tongkang, kata Dani, jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan kereta api atau truk. Misalnya sebuah tongkang yang mampu membawa sekitar 9.000 ton batubara itu sama saja dengan 30 truk.

“Namun rencana ini, yang akan diwujudkan pada tahun 2013 harus didukung oleh berbagai pihak, selain perusahaan pengeksploitasi batubara juga pemerintah Sumatra Selatan dan pemerintah daerah lainnya,” kata Dani Rusli Utama, General Maneger PT Pelindo II, saat jumpa pers di kantornya, Pelabuhan Boom Baru, Palembang, Kamis (07/10/2010).

Selain melaksanakan program tersebut, Dani juga mengungkapkan keinginannya buat meningkatkan fungsi pelabuhan Boom Baru.

Menurut dia, selama ini pelabuhan Boom Baru bekerja selama 24 jam. Tapi, perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa pelabuhan yang dibangun tahun 1924 itu tidak bekerja selama 24 jam, sehingga kapal-kapal yang mengangkut barang harus menunggu lebih lama di pelabuhan, sehingga biayanya bertambah sekitar Rp100 juta per hari. “Akibatnya biaya ini dibebankan pada masyarakat melalui harga produk yang diangkut melalui kapal tersebut,” kata Dani.

Jadi, kalau tidak ada penumpukan barang di kapal lantaran perusahaan bekerja 24 jam, maka harga barang akan turun sehingga konsumen diuntungkan. Misalnya pada semen yang sempat mencapai harga Rp50 ribu per sak lantaran adanya penumpukan di kapal. Setelah langsung diangkut ke gudang-gudang milik perusahaan, harga semen turun menjadi Rp47-48 ribu per sak.

Tuesday, January 11, 2011

7 jurus sakti dan 3 jari yang hilang

Seorang peerja tengah memperbaiki jendela di sebuah perusahan yang terletak di Texas Amerika Serikat. Pihak perusahan menyarankan pada pekerja tersebut untuk menggunakan gergaji meja yang biasa digunakan untuk kebutuhan memotong kayu. Satu kesalahan pihak perusahaan adalah tidak memasang pengaman pada bagian atas pisau gergaji meja sersebut sebagaimana yang sudah diwajibkan oleh aturan keselamatan yang ada. Akibatnya saat pekerja tadi menggunakan gergaji meja tersebut, secara tidak sengaja sebuah kesalahan teknis pada mesin terjadi, hingga tangannya terkena pisau gergaji meja yang tidak diberi pengaman tersebut. Padahal sang pekerja sudah terlatih dalam menggunakan alat tersebut.  3 jari sang pekerja luka parah hingga harus diamputasi. Kini sang pekerja tengah merencanakan tuntutan sebesar 1 juta US dollar kepada perusahaan tersbut.

Waspada terhadap potensi bahaya akibat menggunakan alat kerja adalah kewajiban  semua pihak. Berkut ini adalah 7 Jurus Sakti agar tetap aman selamat dalam menggunakan alat kerja:

1.            Jurus Mata Elang, pastikan dengan teliti apakah alat kerja berfungsi dan dan dinyatakan aman untuk digunakan

2.            Jurus  Perisai , gunakan Alat Pelindung Diri yang nyaman dan sesuai ketika mengunaka alat kerja

3.            Jurus Jawara, pastikan sudah mahir dan menguasai cara menggunkan alat kerja

4.            Jurus Pas, gunakan alat kerja untuk pekerjaan yang sesuai dengan fungsinya

5.            Jurus Selamat, pastikan alat kerja yang sedang digunakan diletakan  atau digunakan dengan tidak membahayakan orang lain

6.            Jurus Maut, matikan alat kerja yang menggunakan listrik

7.            Jurus Pamungkas, matikan alat kerja yang menggunakan listrik dan simpan alat kerja pada tempatnya

Tetap semangat dan selamat dalam setiap aktivitas yang menggunakan alat kerja.

Salam safety

Sumber: www.lorco.co.id

Geologi Batubara di Sumsel

Geologi regional daerah penyelidikan dipengaruhi oleh sistem penunjaman lempeng yang berada disebelah barat Pulau Sumatera, yaitu antara lempeng Eurasia yang relatif diam dengan lempeng India-Australia yang bergerak kearah Utara hingga Timur Laut.

Secara langsung maupun tidak langsung efek penunjaman lempeng tersebut mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik dan struktur geologi di daerah penyelidikan dan sekitarnya yang berada di Cekungan Sumatera Selatan. (Gambar 1).

Berdasarkan konsep Tektonik Lempeng, kedudukan cekungan batubara tersier di Indonesia bagian barat berkaitan dengan sistem busur kepulauan. Dalam sistem ini dikenal adanya cekungan busur belakang, cekungan busur depan dan cekungan intermontana atau cekungan antar busur.

Masing-masing cekungan ini memiliki karakteristik endapan batubara yang berbeda satu sama lainnya. Dilain pihak menurut Koesoemadinata dkk. (1978), semua cekungan batubara tersier di Indonesia (termasuk cekungan Sumatera Selatan) digolongkan jenis cekungan paparan (shelfal basin) karena berhubungan dengan kerak benua pada semua sisinya, kecuali Cekungan Kutai, Cekungan Tarakan di Kalimantan Timur yang digolongkan Contonental Margin.

Menurut De Coster (1974), Cekungan Sumatera Selatan telah mengalami tiga kali orogenesa, yakni : Pada zaman Mesozoikum Tengah, Kapur Akhir-Tersier Awal dan Plio-Plistosen.

Setelah orogenasa terakhir (Plio Plistosen) dihasilkan kondisi struktur geologi regional seperti terlihat pada saat ini. Zone Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara Lempeng Sumatera Hindia dan Pulau Sumatera, akibat tumbukan ini menimbulkan gerakan rotasi (right lateral) diantara keduanya. Perlipatan dengan arah utama Barat Laut-Tenggara, sebagai hasil efek gaya kopel Sesar Semangko. Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar Pra Tesier yang mengalami peremajaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.

Penunjaman Lempeng Sebelah Barat Sumatera

Yang Mempengaruhi Keadaan Geolgi Daerah Penyelidikan

 

Stratigrafi

Statigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan menurut para ahli terdahulu dibagi atas beberapa formasi dan satuan batuan tua sampai muda, yaitu :

  • · Batuan Pra-Tersier : terdiri dari andesit, filit, kuarsit, batu gamping, granit, dan grano diorit.

  • · Formasi Lahat : diendapkan secara tidak selaras di atas batuan Pra-Tersier pada kala Paleosen-Oligosen Awal di lingkungan darat. Formasi ini tersusun daru tufa, aglomerat, breksi tufaan, andesit, serpih, batu lanau, batu pasir, dan batubara.

  • · Formasi Talang Akar : terdiri dari batu pasir berbutir kasar-sangat kasar, batu lanau dan batubara. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Lahat pada kala Oligosen Akhir-Miosen Awal di lingkungan Fluviatil sampai Laut Dangkal.

  • · Formasi Baturaja : terdiri dari batu gamping terumbu, serpih gampingan dan napal. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Talang Akar pada Miosen Awal di lingkungan Litoral sampai Neritik.

  • · Formasi Gumai : terdiri dari serpih gampingan dan serpih lempungan, Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Baturaja pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah di lingkungan laut dalam.

  • · Formasi Air Benakat : terdiri dari batu pasir, diendapakan secara selaras di atas Formasi Gumai pada kala Miosen Tengah-Miosen Akhir, di lingkungan Neritik sampai Laut Dangkal.

  • · Formasi Muara Enim ; terdiri dari batu pasir, batu lanau, batu lempung dan batubara. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Air Benakat pada kala Miosen di lingkungan Paludal, Delta, dan bukan laut.

  • · Formasi Kasai : terdiri dari batu pasir tufaan dan tufa, terletak selaras di atas Formasi Muara Enim, diendapkan di lingkungan darat pada kala Pliosen Akhir-Pliosen Awal.

  • · Endapan Kuarter : terdiri dari hasil rombakan batuan yang lebih tua, berukuran berakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung, diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Kasai.


Berdasarkan hasil penelitian De Coster (1974) mengenai siklus pengendapan di Cekungan Sumatera selatan, disimpulkan bahwa satuan dan endapan batubara yang termasuk kedalam Formasi Muara Enim memiliki siklus pengendapan regresi.















 

Tabel 3. Satuan Regional Cekungan Sumatera Selatan,

Menurut Beberapa Peneliti (Pulunggono, 1986)











































Geomorfologi

Secara umum, daerah penyelidikan dan sekitarnya dapat dibagi menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu :

  • · Satuan morfologi Perbukitan Antiklin

  • · Satuan morfolgi Lembah Sinklin

  • · Satuan morfolgi Dataran Aluvial


Relief dari ketiga satuan diatas secara jelas tampak berbeda, baik diamati dilapangan maupun dipeta topografi yaitu dari pola kontur, bentuk bukit, bentuk lembah, bentuk sungai dan pola aliran sungai.

GEOLOGI BATUBARA DAERAH PENYELEDIKAN

Secara umum Cekungan Sumatera Selatan menghasilkan endapan batubara dengan penyebaran yang cukup luas namun memiliki peringkat kalori yang tidak terlalu tinggi. Endapan batubara yang terdapat pada Formasi Muara Enim dibeberapa lapangan batubara dijumpai 10 (sepuluh) lapisan batubara utama, yaitu :

  • · Lapisan Batubara Manggus : sebanyak 2 lapisan (A dan B)

  • · Lapisan Batubara Suban : sebanyak 2 lapisan (B1 dan B2)

  • · Lapisan Batubara Petai : sebanyak 3 lapisan (C1, C2 dan C3)

  • · Lapisan Batubara Merapi : sebanyak 1 lapisan (D)

  • · Lapisan Batubara Keladi : sebanyak 2 lapisan (E1 dan E2)


Selain itu di bagian atas Lapisan Batubara Manggus (A1) ditemukan 1 hingga 2 lapisan batubara yang tidak terlalu tebal (0,35 – 0,80 m) dan dianggap sebagai lapisan batubara gantung yang tidak menerus dan memiliki sifak fisik dengan peringkat lebih rendah dari batubara dibawahnya.

Pencarian batubara di daerah Rokan IV Koto Riau

• Secara administratif lokasi berada di Kecamatan Rambah Samo dan

Kecamatan Rokan IV Koto Kabupaten Rokan Hulu dengan ibukota Pasirpangarayan.

• Lokasi survei dapat dicapai dengan cara penerbangan

dari Jakarta-Pekanbaru (±1,5 jam), dilanjutkan dengan kenderaan

roda empat ke kota Ujungbatu.

• Lokasi Pertama berada di kecamatan Rambah Samo dapat dicapai dengan

kenderaan roda empat dari kota Ujung Batu ke arah utara (Pasirpangarayan)

dengan jarak kurang lebih 25 km jalan aspal, lalu melalui jalan tanah kurang lebih

15 km ke arah barat hingga tiba di desa Warga Mulya.

• Lokasi Kedua berada di kecamatan Rokan IV Koto dapat dicapai dengan

kenderaan roda empat melalui jalan aspal sepanjang 40 km hingga ke

kota Rokan (ibu kota kecamatan), dilanjutkan jalan tanah sepanjang 17 km

hingga ke lokasi survei.

• Dari hasil pengamatan di lokasi dijumpai beberapa singkapan batubara

dengan ketebalan antara 1 meter hingga 7 meter. Dari deskripsi megaskopis

batubara di daerah ini berwarna hitam mengkilat,

kilap kaca, cleat renggang, gores hitam, pecahan konkoidal.