Tiket Pesawat Online

Bisnis Tiket Pesawat - http://www.tiket-network.com/?ref=sopokopi.

Medan Rental Car

Rental mobil di Medan, hubungi Abang Ido 081375884432 - Tirtanadi.com.

Tambang Batubara

Strip Coal Mining - kliktambang.blogspot.com.

Mineral

Kristal Fluorapophyllite - kliktambang.blogspot.com.

Coal Mining

Flathead coal mining - kliktambang.blogspot.com.

Saturday, July 2, 2011

Cadangan Batubara RI Akan Habis dalam 80 Tahun

Jakarta - Peran batubara sebagai sumber energi terus mengalami peningkatan. Namun pengelolaan batubara harus dilakukan dengan hati-hati karena cadangan batubara Indonesia akan habis dalam 80 tahun.

Demikian disampaikan oleh Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh saat melantik Dirjen Mineral dan Batubara Thamrin Sihite, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (6/5/2011).

Darwin mengatakan, peran batubara dalam pemenuhan energi nasional terus mengalami peningkatan dari 41 juta ton di 2005 menjadi 67 juta ton di 2010. Sementara itu, dalam bauran energi nasional, proporsi batubara di 2005 sebesar 19% dan menjadi 23% di 2010.

"Proporsi ini ditargetkan terus meningkat mencapai 33% di 2025," ujar Menteri.

Selain itu, di sektor listrik, penggunaan batubara membuat biaya produksi listrik jauh lebih murah. Darwin mengatakan, Biaya Pokok Produksi (BPP) listrik dari batubara sekitar Rp 700/Kwh dan untuk listrik dari bahan bakar minyak lebih besar dari Rp 2.000/Kwh.

"Di sini, Dirjen Minerba dan Dirjen Listrik perlu terus bekerjasama untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar minyak dan gas," jelas Darwin.

Darwin mengatakan kepada Thamrin, tantangan pengelolaan batubara ke depan penuh tantangan karena cadangan batubara Indonesia akan habis dalam 80 tahun. "Jumlah cadangan sebesar 21,13 miliar ton dan tingkat produksi sebesar 275 juta ton per tahun untuk tambang terbuka," jelasnya.

"Menjadi tantangan bersama Dirjen Minerba dan unit-unit maupun Kementerian lain untuk mendukung percepatan pembangunan infrastuktur batubara sehingga dapat mencapai target yang diharapkan," tukas Darwin.

PTBA Rampungkan Pembelian Saham BATR

INILAH.COM, Jakarta – PT Bukit Asam PTBA (Persero) berencana menyeleasaikan penambahan kepemilikan saham atas PT Bukit Asam Transpacific Railway (BATR) paling lambat November 2011.

Adapun penambahan kepemilikan saham tersebut adalah dari 10% menjadi 30%. “Paling lambat November 2011,” tukas Direktur Utama PTBA, Sukrisno di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta Jum’at (1/6).

Sukrisno menjelaskan, penambahan kepemilikan saham dilakukan melalui pembelian saham yang sebelumnya dimiliki oleh Rajawali Corporation sebesar 20%. Sementara atas kepemilikan 20% saham yang baru ini, pihaknya memperkirakan akan menghabiskan dana sekitar US$320 juta.

“Jadi 70% dana tersebut akan diusahakan dari pinjaman Bank, sementara sisanya dari kas internal perusahaan. Untuk (saham) 20% itu, 30% equity, 70% pinjaman dari Bank,” ujar dia. Dengan penambahan kepemilikan ini, maka komposisi kepemilikan saham nantinya adalah 30% (PTBA), 10% (CREC), dan 60% (Rajawali).

BATR merupakan perusahaan konsorsium antara PTBA, China Railway Engineering Corporation (CREC) dan Rajawali Corp. Pembentukannya sendiri terkait dengan proyek pembangunan rel kereta api sepanjang 300 km untuk menghubungkan tambang perusahaan yang berada di Bangko Tengah, Sumatera Selatan ke terminal batubara Tarahan di Lampung.

Atas kepemilikan saham ini, masing-masing perusahaan memiliki porsi 10% untuk PTBA, 10% untuk CREC, dan 80% untuk Rajawali Corp. [hid]

KESDM Minta Pengusaha Kuasai Teknik Olah Batubara

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah meminta pengusaha batubara nasional agar mengolah terlebih dahulu sebelum dijual sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi.

"Selama ini komoditas tambang kita itu apa adanya diekspor, padahal kalau diolah terlebih dahulu bisa menaikan nilai tambah," ungkap Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Thamrin Sihete di kantornya, Jakarta Jum'at (27/5).

Thamrin mengakui, untuk meningkatkan nilai tambah tersebut tidak mudah. Sebab diperlukan teknologi dan investasi yang besar. Namun dirinya tetap optimisitis bahwa ke depannya Indonesia akan bisa menguasai teknologi tersebut.

"Kita sudah punya smelter. Sebagai contoh, tembaga yang dulu kita ekspor sebagai ore sekarang diolah dulu di Gresik sebelum dijual keluar negeri. Itulah pengertian nilai tambah," ujar dia.

Thamrin Sihete Resmi Jadi Dirjen Minerba di KESDM

INILAH.COM, Jakarta - Menteri ESDM (Energi Sumber Daya dan Mineral), Darwin Zahedy Saleh hari ini Jum'at (6/5) melantik Thamrin Sihete sebagai Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi yang baru.

Pengangkatan Thamrin Sihete sebagai Dirjen Minerbapum dikarenakan pejabat sebelumnya yaitu Bambang Setiawan pensiun.Pengangkatan ini bersamaan dengan dua pejabat eselon 1 lainnya di lingkungan kantor kementerian ESDM.

Pejabat itu adalah Muhammad Teguh Pamuji sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat ESDM). Jugamelantik Ronggo Kuncahyo sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi Sosial dan Kemasyarakatan Kementerian ESDM.

Muhammad Teguh Pamuji sebelumnya menjabat Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi Sosial dan Kemasyarakatan. Sedangkan Ronggo Kuncahyo sebelumnya menduduki jabatan Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan.

Sunday, May 1, 2011

PT Bukit Asam Garap 3 Proyek Transportasi Batubara

PT Bukit Asam (Persero) Tbk, semakin memperlihatkan eksistensinya sebagai perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. Dari waktu ke waktu perusahaan yang bermarkas di Tanjung Enim, Provinsi Sumatera Selatan ini terus berpacu menancapkan diri sebagai BUMN yang sehat.

Buktinya saat ini PT BA tengah menggarap tiga proyek transportasi batubara dengan kereta api dari lokasi tambang di Tanjung Enim Sumatera Selatan meniju pelabuhan dan dermaga bataubara di Lampung dan Sumatera Selatan dengan total kapasitas angkutan sebesar 82,7 juta ton.

Adapun ketiga proyek itu, pertama adalah proyek penjngkatan kapasitas  angkut batubara Kereta Api Eksisting yang di operasikan PT Kereta Api Indonesia[KAI] dari lokasi tambang di Tanjung Enim menuju Pelabuhan Tarahan Bandar Lampung dan Dermaga Kertapati Palembang. Tahun 2010 kapasitas angkut kereta api PT KAI sudah menandatangani Coal Transportation Agreement atau Perjanjian Tranportasi Batubara untuk mengangkut batubara PTBA dengan kapasitas 22,7 juta ton pertahun.

Kedua,  pembangunan transportasi kereta api baru dari Tanjung Enim menuju pelabuhan baru di Lampung berkapasitas 25 juta ton pertahun dengan bentangan rel sepanjang 307 kilometer.Proyek yang kontrak EPC-nya senilai USD 1,3 miliar yang sudah di tandatangani Maret 2010 lalu, melalui konsorsium PT Bukit Asam Tanspacific Railway(BATR). “PT BA menguasai 10 persen sahamnya, PT Transpacific Railway Infrastructure 80 persen dan China Railway Engineering 10 persen. “ kata Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam, Achmad Sudarto di Jakarta, baru-baru ini.

Dijelaskannya, saat ini statusnya masih dalam proses penyelesain design. Diharapkan  proyek ini mulai beroperasi secara komersialisai pada tahun pertama di tahun 2017 mulai beroperasi dengan kapasitas puncaknya sebesar 25 juta ton per tahun.

Ketiga atau yang terakhir merupakan proyek pembangunan transportasi kereta api dari Tanjung Enim menuju pelabuhan baru di wilayah Tanjung Api-api, di Pantai timur Sumsel. Proyek ini di bangun oleh Adani Global dan Pemprov Sumatera Selatan.

Sementara posisi PTBA, adalah pihak yang mempunyai kewajiban untuk menyuplai batubaranya sebesar 35 juta ton per tahun. “Head of Agreement untuk Coal Transportation Agreement proyek ini ditandatangani bulan Agustus 2010 lalu. Sedangkan operasi komersialnyadiharapkan mulai tahun 2014 sebesar 7,5 juta ton per tahun dan tahun kelima ditargetkan sudah bisa mengangkut 35 juta ton batubara PTBA per tahunnya, “ tutur Achmad Sudarto.

Saat ini sumber daya batubara PTBA, di Tanjung Enim terdapat sekitar 6,36 milyar ton dari total 7,29 milyar. Dengan selesainya pembangunan tiga proyek transportasi batubara di atas, maka pada tahun 2015 produksi PTBA akan mencaoai 50 juta ton per tahun dan 2018 nanti akan naik menjadi 80-90 juta ton per tahun, termasuk tambahan dari penjualan di mulut tambang, paparnya.

Proyek Lain

Di luar proyek pembangunan sarana trasportasi, sejumlah proyek lainnya yang sedang digarap PTBA, di antaranya proyek pembangunan PLTU Banjarsari 2 x 100 MW di mulut tambang di Lahat Sumatera Selatan. Pembangunan konstruksinya diharapkan sudah bisa dimulai awal tahun depan oleh CNEEC dari China sebagai kontraktor  EPC yang sudah ditunjuk.

Sebelumnya prakondisi di lapangan sudah dirampungkan, Saat ini statusnya sedang dalam tahap finansial PPA. Dalam proyek yang diharapkan bisa beroperasi secara komersial tahun 2013 nanti, PTBA menempati posisi sebagai pemegang 59,75 persen sahamnya, PJB 29,15 persen dan NII 11,10 persen.

Selain itu, pengembangan proyek Coal Bed Methane yang melibatkan PTBA sebesar 27,5 persen sahamnya, Pertamina 27,5 persen dan Arrow Energy 45 persen, saat ini sudah menyelesaikan tahap penandatanganan Joint Operation Agreement antara PTBA – PT Pertamina dan Arrow Energy. Proyek yang wilayah operasinya di Tanjung Enim ini akan menghasilkan sekitar 50 MMSCF/day atau sekitar 50 juta kaki kubik gas per hari dan ditargetkan mulai beroperasi tahun 2013 mendatang.

Mengantisipasi peningkatan kapasitas angkut batubara oleh PT KAI, PTBA juga meningkatkan kapasitas muat Pelabuhan Tarahan dari saat ini hanya memiliki satu dermaga dengan kapasitas sandar 80.000 dwt ditingkatkan menjadi dua dermaga, masing-masing 80.000 DWT dan 150.000 DWT. Dengan menyerap anggaran sebesar USD 135 juta, proyek yang saat ini dalam tahap tender untuk memilih kontraktor EPC-nya diharapkan selesai tahun 2013.

Untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional, PTBA membangun dua PLTU untuk pemakaian sendiri, masing-masing di Tanjung Enim dengan kapasitas 3 x 10 MW dan diharapkan mulai beroperasi tahun 2011. Sedangkan yang satu lagi di Pelabuhan Tarahan dengan kapasitas 2 x 8 MW. Pembangunan konstruksinya akan dimulai pada awal tahun depan oleh kontraktor EPC yang sudah ditunjuk, dan ditargetkan mulai beroperasi tahun 2013.

Kinerja Triwulan III

Hingga Triwulan III tahun 2010, volume penjualan PTBA mengalami kenaikan sebesar 12 persen atau naik menjadi 9,78 juta ton, dibandingkan volume penjualan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 8,73 juta ton. Akibat terjadinya penurunan harga batubara pada periode ini, maka Pendapatan PTBA mengalami penurunan sebesar 10 persen atau menjadi Rp 5,9 triliun dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 6,9 triliun. Penurunan harga pasar ini disertai pula oleh kenaikan Harga Pokok Produksi (HPP) akibat naiknya tarif angkut kereta api.

Semua ini telah menempatkan posisi PTBA periode januari-september 2010 untuk Laba kotor menjadi sebesar Rp 2,6 triliun, Laba Bersih Rp 1,4 triliun.

Namun demikian, kondisi eksternal yang kurang kondusif ini tidak mengurangi minat investor terhadap saham PTBA, di mana saham PTBA selalu menunjukkan kinerja yang cukup baik. Pada penutupan perdagangan saham tahun 2009 tanggal 30 Desember 2009, saham PTBA menempati angka Rp 17.250 per saham. Tanggal 10 November kemarin, saham PTBA mencatat rekor harga tertingginya, yaitu Rp 21.850,- per saham dan penutupannya dengan harga Rp 21.800, per saham. Heldian/Abus